Jumat, 23 Agustus 2013
MAS MANTRI MENJENGUK TUHAN
MAS MANTRI MENJENGUK TUHAN
oleh : Ahmad Thohari
Pada pagi hari di hari lebaran yg lalu, Mas Mantri tidak muncul di tempat sholat Id. Padahal boleh dibilang, sebagian besar warga kampung tumplek blek disana dalam suasana khusuk sekaligus gembira.
Ketidak hadiran Mas Mantri banyak dipertanyakan orang. Ya, apabila pada kesempatan yang agung seperti sholat Id, lelaki paruh baya itu tidak terlihat, pasti ada sesuatu yang terjadi atas dirinya. Maka setelah selesai sholat dan bersalaman dengan sesama warga kampung, saya langsung menuju rumah Mas Mantri. Den Besus dan Kang Marto Pacul yang mengetahui rencana saya sontak bergabung.
Sampai ditujuan kami mendapati rumah Mas Mantri terlihat sepi. Pintu depan tertutup. Anehnya, dari dalam terdengar suara radio menggemakan takbir. Den Besus memanggil –manggil pemilik rumah, tak ada jawaban. Kami saling berpandangan karena kami mulai cemas, jangan-jangan telah terjadi sesuatu yang serius terhadap orang yang sering kami ajak jagongan ini. Saya usul agar Pak RT diberitahu, sebab siapa tahu ia kena musibah tersengat listrik misalnya. Ya, saya bergerak menuju ke rumah Pak RT.
Tetapi belum jauh kaki melangkah, tiba-tiba kami mendengar suara orang terbatuk dari gubug agak di belakang rumah Mas Mantri. Itu rumah liliput yang ditinggali sendiri oleh Nek Trimo. Kami bertiga sepakat pergi ke gubug itu dan menemukan Mas Mantri sudah berada disana. Anehnya Mas Mantri sudah necis dengan dandanan kain sarung serta kopiah baru. Baju kokonya putih bersih seperti orang yang siap pergi ke masjid.
“ Kok sampeyan masih disini?“ tanya Den Besus. “ Kenapa tidak ikut sholat Idh?“
Mas Mantri tidak segera menjawab karena Nek Trimo yang tergeletak lemah di balai balai bambu kembali terbatuk, dan terus terbatuk lalu mengerang. Sosok tubuhnya yang tampak sangat ringkih hampir lenyap di balik selimut kain lusuh. Kami merasa terjebak oleh suasana haru. Apalagi setelah kami mengetahui lebih jelas keadaan di dalam gubug itu ; tak ada makanan atau minuman apalagi obat-obatan.
“Tadi pagi sebenarnya saya sudah siap berangkat ke tempat sholat Idh. Tapi karena mendengar Nek Trimo terus terbatuk, saya datang kemari." Mas Mantri mencoba memberi penjelasan.
“Lalu sampeyan tak tega meninggalkan dia seorang diri?“ tanya saya.
Mas Mantri mengangguk, dan wajahnya kelihatan ragu. “Karena menemani Nek Trimo sehingga tak bisa pergi sholat Idh, apakah saya salah?“ tanya Mas Mantri dengan pandangan mata tertuju kepada saya.
Den Besus dan Kang Marto Pacul pun berbuat sama sehingga saya merasa jadi pusat perhatian. Entahlah, pertanyaan Mas Mantri terasa langsung menusuk dasar iman saya. Ya Tuhan, saya merasa malu karena tiba-tiba saya teringat pernyataan Tuhan sendiri bahwa barang siapa menjenguk si sakit, si haus, dan si lapar, maka berarti dia telah menjenguk Tuhan. Dan ternyata Mas Mantri-lah yang telah melakukan kesalehan tersebut. Saya merasakan adanya ironi yang tajam karena sangat boleh jadi Mas Mantri justru belum tahu akan adanya pernyataan Tuhan itu. Nek Trimo terbatuk lagi, kering dan dalam.
“Wong ditanya kok malah bengong,“ kalimat Den Besus mengejutkan saya.
“Ya Den, saya sangat percaya tak ada kesalahan apa pun pada diri Mas Mantri yang tidak pergi sholat Idh demi menemani Nek Trimo.“
“ Ah apa iya ? “ tanya Kang Marto Pacul. “Meninggalkan sholat Idh untuk menjaga orang sakit, apakah tidak berarti lebih mengutamakan kepentingan manusia ketimbang kepentingan Tuhan?“
Lagi, dasar iman saya terasa tertusuk, kali ini oleh pertanyaan Kang Marto Pacul. Karena gelisah, saya tak bisa segera bicara. Pikiran saya melayang. Oh, alangkah banyak orang lupa bahwa hakikat ibadah adalah penyebarluasan kasih sayang Ilahi di dunia agar manusia berjumpa dengan Tuhan dalam ramatullah kelak. Dan pagi ini Mas Mantri memang telah meninggalkan sholat Idh. Namun sebagai penggantinya lelaki tersebut telah melakukan ibadah maknawi yang sangat tinggi nilainya. Mas Mantri telah menunaikan silaturahmi paling hakiki antar sesama manusia, sekaligus menziarahi Tuhan seperti telah dinyatakan dalam sabda Dia sendiri. Silaturrahmi macam itu terang lebih maknawi daripada sholat (sunah) Idh, serta salam- salaman yang masih bersifat simbolis.
“Eeeee… kamu kok jadi pelamun?“ tegur Kang Marto Pacul. “Tadi saya bertanya, apakah tindakan Mas Mantri pagi ini tidak berarti menomorsatukan kepentingan manusia dan menomorduakan kesetiaan terhadap Tuhan?“
“Saya yakin tidak!“ Jawab saya sambil menelan ludah. “Soalnya begini, apabila sampai terjadi Nek Trimo meninggal dalam keadaan merana, orang sekampung, terutama Mas Mantri yang tinggal paling berdekatan yang berdosa. Bukankah seorang seperti Nek Trimo ini merupakan amanat Tuhan bagi kita semua? Lagi pula sholat Idh hukumnya kan sunah. Sementara menyantuni fakir miskin hukumnya wajib. Jadi pagi ini Mas Mantri telah meninggalkan perkara sunah demi melakukan pekerjaaan wajib. Maka tidak salah bukan?“
Den Besus dan Kang Marto Pacul diam, saya kira pegawai kantor kecamatan dan tukang becak lugu itu bisa memahami omongan saya.
“Kita tidak layak terlalu banyak omong di hadapan Nek Trimo yang sedang sakit,“ Mas Mantri tiba-tiba bicara. “Kita harus segera melakukan pertolongan nyata. Saya mau pergi ke apotik jaga, cari obat sementara. Saya minta Kang Marto Pacul pergi ke kecamatan tetangga memberitahu kerabat Nek Trimo.“
“Saya akan mengambil termos dan makanan,“ kata saya.
“Lalu saya kebagian apa?“ tanya Den Besus.
"Sementara kami pergi, tungguilah Nek Trimo disini,“ jawab Mas Mantri.
“Jadi kita tidak melakukan silaturahmi dan salam-salaman? Ini kan hari lebaran?“ tanya Den Besus lagi.
“Ya inilah silaturahmi yang sebenar - benarnya“ jawab Kang Marto Pacul.
Ah ternyata tukang becak lugu itu bisa menjawab dengan tepat pertanyaan Den Besus. Kemudian Mas Mantri, saya dan Kang Marto Pacul berangkat. Pagi ini kami merasakan sentuhan hakikat persaudaraan sejati. Karena pagi ini kami mengikuti Mas Mantri menjenguk Tuhan.
--0o0o0--
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Besar berfirman pada hari kiamat, “Wahai anak Adam, Aku sakit namun kamu tidak menjenguk-Ku.” Ia berkata, “Wahai Tuhan saya, bagaimana saya menjenguk- Mu, sedang Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Dia berfirman, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba- Ku Fulan sakit, namun kamu tidak menjenguknya? Tidakkah kamu mengetahui, seandainya kamu menjenguknya, niscaya kamu mendapati Aku di sisinya. Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, namun kamu tidak memberi-Ku makan.” Ia berkata, “Wahai Tuhan saya, bagaimana saya memberi makan kepada-Mu, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam?” Allah berfirman, “Tidakkah kamu mengetahui bahwa hamba Ku si Fulan minta makan kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya makan? Apakah kamu tidak mengetahui bahwa seandainya kamu memberinya makan, niscaya kamu mendapatkannya di sisi-Ku? Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tapi kamu tidak memberiku minum.” Ia berkata, “Bagaimanakah saya memberi-Mu minum, sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah berfirman, “Hambaku si Fulan minta minum kepadamu, tetapi kamu tidak memberinya minum. Sesungguhnya seandainya kamu memberinya minum, niscaya kamu mendapatinya di sisi-Ku.”
* * *
Ternyata berkomunikasi melalui FB (tulisan) sangatlah tidak mudah. Kita tidak tau persis apa maksud penulis, bagaimana intonasinya, marah atau bercanda, menasehati atau menghina, dll, kita sama sekali tidak tahu.
Terkadang berkomunikasi secara langsung pun kita masih sering salah faham, apalagi jika hanya sebatas melalui tulisan. Oleh karena itu melalui status ini, dan di Hari yang Fitri ini, Kang HIAS memohon maaf kepada seluruh teman - teman page Humor Islami Ala Santri - HIAS.
Karena barangkali selama ini ada status maupun komen-komen Kang HIAS yang membuat teman-teman semua sakit hati atau tersinggung. Mohon dibukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya. Kang HIAS yakin semua teman-teman adalah pemaaf. Semoga Allah mengampuni dosa2 kita semua. Aamiin.
"Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan , maka sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Kuasa." (An Nisaa:149)
"Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan," (Asy Syuura:25)
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 HIJRIYYAH. Taqobballallaahu minnaa wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin.
Sabtu, 10 Agustus 2013
Habib Munzir bin Fuad Al Musawa bercerita
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 3)
Sungguh Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?
Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri.
Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan. Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,
أتروْن هذه طارحةً ولدَها في النار؟
“Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?”
Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali:
الَلَّهُ أرحمُ بعباده مِن هذه بولدها
“Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari).
Besarnya Cinta Rasulullah SAW kepada umat
ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membaca ayat alqur'an (ucapan nabiyullah Ibrahim As):
"Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala- berhala itu telah menyesatkan kebanyakan daripada manusia, maka barangsiapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau, Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Ibrahim: 36)
Kemudian Rasulullah membaca ayat al qur'an lagi (ucapan nabi Isa As):
" Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana " ( QS. Al Maidah : 118 )
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
mengangkat kedua tangannya, menangis dan berdoa:
"Wahai Allah, tolonglah ummatku, tolonglah ummatku"
Kemudian malaikat Jibril As turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata:
"Wahai Rasul, Allah bertanya apa yang membutmu menangis?" Allah subhanahu wata'ala Maha Tau keadaan beliau- , namun Allah mengutus Jibril As kepada Rasulullah agar beliau mengeluarkan isi hatinya,
apa yang menyebabkan beliau menangis.
Maka Rasulullah berkata:
"Nabi Ibrahim As berlepas diri dari ummatnya yang pendosa, begitu pula nabi Isa As, namun aku tidak bisa begitu saja melepaskan diri dari ummatku yang pendosa, aku tidak mampu mengatakan seperti yang telah diucapkan nabi Ibrahim dan nabi Isa (QS. Ibrahim: 36 dan QS. Al Maaidah: 118)".
Maka malaikat Jibril kembali kepada Allah dan Allah subhanahu wata'ala memberi salam kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian malaikat kembali kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, wahai Rasulullah Allah subhanahu wata'ala telah menyampaikan kepadamu:
" Kami telah meridhoi umat-mu dan tidak akan menyakitimu"
Maka di saat itu tenanglah perasaan nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun sebelum itu beliau menangis karena tidak bisa berlepas diri dari ummatnya yang berdosa, beliau masih ingin menyelamatkannya, maka Allah berikan hak syafaat kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk ummatnya yang pendosa,
inilah idola kita yang sesungguhnya Sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam..
Cintailah , kenalilah wahai Saudara/i ku yang dimuliakan ALLAH, kenalilah Sejarah hidup beliau , Demi ALLAH kalian akan menangis rindu jika kalian telah mengenal SAYYIDINA MUHAMMAD SAW..
Selasa, 16 Juli 2013
Tausiah "Mengapa Mesti Berpuasa"
Dalam bulan ramadhan hanya satu, perumpamaan bagi orang yang berpuasa dibulan ramadhan itu adalah orang yang beriman.
bagaimana kita menilai orang mana yang tidak puasa dan mana yang puasa dengan melihat keimanannya.
karena bulan ramadhan ini bulan untuk orang-orang yang beriman, orang yang beriman itu tau apa yang dilakukan dan dikerjakan apa yang diperintahkan.
apabila ada orang yang tidak puasa didepan kita diamkan saja dalam hati kita kita tahu bahwa dia ini bukan orang yang beriman.
tidak usah berkata “anda tidak menghormati orang yang berpuasa” ataupun “anda tidak menghargai orang yang berpuasa”.
jika memang dia memiliki iman maka ia akan berpuasa dan jangan dijaikan permasalahan bagi mereka yang tidak berpuasa yakin saja apa yang diperintahkan Allah dan kita berbuat karena Alalh SWT.
Berpuasanya orang yang beriman itu karena Allah bukan karena yang lain.. lillahi ta’ala..
karena Allah…
Jemputlah Hujan Dengan Doamu Yg Lantang
Peluhmu Jadi Saksi Prasasti Kesungguhan
Tak Usahlah Menangis, Usap Saja Air Mata Itu
Karena Air Mata Bisa Jadi Simbol Banyak Makna
Biarkanlah Kambing Hitam Itu Merumput Dan Jangan Diganggu
Endapkan Saja Semua Salah Dan Dosa Yang Ada Dalam Ceruk-Ceruk Hati Kita Yg Lusuh
Biar Air Mata Para Nabi
Membasuh Hati Kita
Tetes Demi Tetes Biar Meretas Waktu
Menjadi Telaga Al-Kautsar Yg Suci
Tanggalkan Semua Keakuan Dan Dusta
Larutkan Sesal Dalam Tadabur Yang Khusu
Hingga Kita Benar-Benar Telanjang
Karena Tuhanpun Suka Ketelanjangan.
Benarkah Setia itu Menyakitkan
Salam pertemuan buat semua.
Satu soalan saya hari ini buat
teman-teman semua.
Bagaimana hati dan iman anda
hari ini? Masih ‘sihatkah’.
Alhamdulillah. Setia itu
menyakitkan? Benarkah
ungkapan ini? Ungkapan ini
begitu popular pada pasangan
yang baru sahaja mengalami
kemalangan di dalam
percintaan mereka yakni
putus atau suami isteri yang
mengalami kecurangan
pasangan hidup mereka. Moga
kita di jauhi dari segala fitnah
dunia ini. Ameen
“Kalau tidak mampu
untuk setia jangan sekali
kita mengenal cinta.” Indah
betul ungkapan ini. Mungkin
ada yang memahaminya pada
tafsiran yang berbeza.
Pertama kali melihat saya agak
terjatuh hati dengan kata-kata
ini. Tapi kali kedua melihat dan
memikirkannya membuatkan
hati saya mula
mempersoalkannya.
Sebenarnya
cinta yang
bagaimana yang boleh
didasarkan dengan makna
setia. Kita harus
memahaminya sedalam-
dalamnya. Ramai yang
beranggapan ‘orang ketiga’
itu adalah punca yang menjadi
keretakan dalam hubungan
cinta dan rumahtangga. Kita
sering menyalahkan orang
ketiga tetapi mengapa kita
tidak merujuk kepada ‘orang
pertama’ dan ‘kedua’ yakni
pasangan yang sudah ada tali
ikatan cinta itu sendiri? Setiap
yang berlaku pasti ada
sebabnya.
Mengapa pasangan kita
berubah hati kepada yang
ketiga kerana kita tidak
mampu mendidik hati kita
untuk menjaga hatinya. Saya
ulangi kerana kita tidak
mampu mendidik hati kita
untuk menjaga hatinya.
Bagi memahami apa yang saya
jelaskan
tadi mari kita
memahami apa yang
dimaksudkan dengan cinta itu.
Cinta atau hub atau pyar atau
love atau mohabbatein ini
banyak di sebut di dalam
Kalam Allah kerana ia
mempunyai maksud yang
indah. Cinta itu fitrah dan
sememangnya ada pada setiap
makhluk
yang diciptakan oleh
Allah. Bercinta itu tidak salah
tetapi melanggar hukum cinta
itu yang salah. Menghalalkan
yang haram itu yang
membawa kepada mazmumah.
Boleh
menghalalkan yang
haram tetapi perlu betul
caranya. Bagaimana? Nikah.
Jika bertunang adakah
masih halal untuk menjalinkan
cinta? Haram sekiranya kita
melanggar segala yang
dilarang di dalam agama
seperti bersentuhan atau
berpimpinan tangan. Kerana
dia masih belum halal untuk
kita dan masih dia belum
mahram kita. Bertunang itu
hanya adat bukan syariat.
Maka harus dijaga setiap
perlakuan kita. Zina hati
terutamanya. Kata orang,
apabila kita bertunang ini
banyak dugaannya dan saya
menambah lagi bahaya
dugaannya. Cinta boleh jadi
dendam jika tidak dijaga
dengan mendalam! Cinta
juga boleh menjadi
kesumat jika tidak dikawal
dengan cermat!
Apabila bertunang,
rindu di hati makin mekar
semekar bunga di taman.
Dugaan pasti hadir dalam
tempoh itu. Jika tiada kawalan
atau ketetapan iman pasti
akan merobohkan ikatan yang
membawa ke alam
perkahwinan itu. Oleh itu,
kawallah hati nescaya kita
akan mampu mengawal
diri! Setia itu bukan mudah
tetapi tidak susah jika
semuanya kerana Allah. Jika
matlamat betul dan jodoh
yang kita pilih itu adalah tepat
dengan kita pasti hati kita
susah untuk berubah atau
tergelincir dari setia. Namun,
jika sebaliknya pasti akan
berlaku perkara yang
mendukacitakan kita tetapi
percayalah setiap kejadian
pasti ada hikmahnya.
Mendidik
setia itu sukar tetapi
boleh dikawal bukan dengan
pandangan mata tetapi
dengan pandangan mata yang
ada pada dada yakni hati!.
Jika setia kita bentuk
dengan hanya pandangan
mata, maka apabila berlaku
‘pameran’ kecantikan wanita
di hadapan mata kita. Kita
akan jadi buta. Buta memilih
antara yang indah dan sedap
untuk di pandang. Apabila kita
melihat rupa mungkin kita
keliru dan buntu. Masih tercari-
cari
yang paling cantik.
Percayalah kecantikan
manusia itu takkan kekal
hanya Allah sahaja yang
maha kekal. Zaman sekarang
ini berbeza, apa guna rupa
yang cantik jika banyak
penyakit! Apa guna wajah
yang tampan jika tidak
mampu melaksanakan suruhan
Tuhan.
Berbalik pada ungkapan
tadi. Sebenarnya setia itu
tidak menyakitkan bahkan
membahagiakan walaupun
kita disakiti. Tetapi ada yang
berkata luka di jiwa lebih
dalam dan lama kesannya dari
luka yang ada pada tubuh
badan kita. Tetapi kedua-
duanya tetap meninggalkan
kesan dan parut! Kita perlu
mengenal cinta! Kita perlu
mentadbir setia! Tetapi
bagaimana cara dan
pelaksanaannya? Jawapannya
kenal cinta DIA dahulu. Kita
mengaku kita tahu Allah itu
ada tetapi kita tidak benar-
benar kenal bahawa Allah itu
ada dengan kita bahkan
sentiasa memerhatikan setiap
gerak-geri kita.
Apabila kita disakiti
atau dicurangi pernahkah kita
menyoal kembali diri kita.
Adakah kita pernah menyakiti
Allah dan mencurangi kasih
Allah kepada kita. Kita sudah
lupa ‘si pemberi’ kasih dan
cinta apabila kita bertemu
dengan ‘dia’ di dunia. Kita
bercinta kemudian putus
kemudian bertemu lagi
kemudian putus lagi kemudian
bertemu kembali. Takdir dari
Allah. Apabila berlaku perkara
yang menguji hati dan
perasaan kita, barulah kita
akan kembali kepada Allah.
Mujur masih diberikan hati
untuk berubah. Itu tanda hati
kita masih belum mati lagi.
Acap kali kita melakukan dosa
dan acap kali kita bertaubat.
Kita bersih dan suci. Tetapi
pernahkah kita berfikir sudah
berapa kali kita berlaku curang
terhadap kasih Allah kepada
kita?
Ketika bertemu dengan
‘dia’ kita percaya bahawa dia
adalah jodoh kita dan datang
dari Tuhan dan jodoh itu kita
yang berusaha
mendapatkannya. Maka
dilaksanakan Istikarah, Doa
dan Istiqamah dalam
memilihnya. Tetapi sedarkah
kita, adakah kita benar-benar
sudah bersedia untuk
mendapatkan jodoh kita itu.
Saya ulangi soalan saya
adakah kita sudah mampu dan
sanggup ke alam
tanggungjawab yang lebih
besar? Tiada guna jika
makan dan belanja pun
masih ditanggung ibu bapa
tetapi hati ‘gian’ hendak
mencari jodoh yang mulia.
Bagi mereka yang
berkemampuan tidak
mengapa tetapi bagi yang
tidak, fikirkanlah sedalam-
dalamnya. Apa guna
mengejar syurga rumah
tangga seandainya syurga
di bawah telapak kaki pun
masih terkial-kial
mencarinya. Di dalam
kehidupan ini kita harus tahu
bahawa jodoh itu kita
merancang memilihnya dan
Tuhan juga merancang
menentukannya. Percayalah
bahawa jodoh dari Tuhan itu
adalah yang paling tepat
kerana dia Maha Agung dan
Maha mengetahui. Bersabarlah.
Namun, jika kita
rasakan cinta kita yang
sekarang ini adalah milik kita
dan dia sebenarnya kita sudah
melakukan satu kesilapan
yang agak besar. Ini bermakna
kita sudah memberikan hati
kita kepada dia dan berharap
dia yang terawal dan terakhir
atau dia yang kedua dan
terakhir atau dia yang ketiga
dan terakhir. Apabila bukan
kerana Tuhan, cinta yang
diberikan itu bertemu titik
perhentian dan ujian maka apa
yang
dipanggil setia itu akan
dikatakan sebagai satu
kesakitan. Ingatlah apabila kita
memiliki sesuatu jangan sekali-
kali kita menganggap ia
merupakan milik kita selama-
lamanya anggaplah ia hanya
pinjaman. Kerana jika kita
meminjam kita harus
memulangkannya kembali.
Begitu juga dengan cinta,
anggaplah ia pinjaman dari
Tuhan. Jika nikmat itu ditarik
balik kita tidak akan merasa
kesakitan kerana ia
sebenarnya MILIK TUHAN.
Kita tiada daya untuk
menghalangnya.
Jika hendak menilai
setia mari kita renungi kisah
Asiah isteri Firaun, dia setia
kepada suaminya tetapi Allah
yang utama. Dia diuji dengan
suami yang zalim dan kejam
tetapi dia yakin dengan
percaturan Tuhan. Setia itu
tidak menyakitkan tetapi
memberi kebaikan. Apabila
kita diduakan baru kita
tahu kita juga telah
menduakan cinta Tuhan!
Setia itu membahagiakan!
Walau hati disakiti tetapi ingat
kita masih ada Ilahi bukankah
dia yang mengurniakan hati
kita? Kesetiaan itu pasti di
balas. Jika bukan di dunia
mungkin nanti di alam sana.
Apa yang penting kita
sentiasa berbaik sangka
dengan Tuhan!
.
.
.
.
Apa yang Anda pikirkan tentang lagu dibawah ini >setia itu menyakitkan_Angkasa>
Jangan terlalu mendalami tentang cinta
Bila tak bisa menerima kegagalan
Cinta bisa bahagia dan bisa terluka
Disakiti menyakiti hati
[*]
Jangan pernah setia
Bila harus berujung menyakitkan
Sia-sia setia
Bila harus slalu terluka
[**]
Mungkin karena setia
Cinta takkan pernah akan bahagia
Tapi karena mendua
Cinta ‘kan berakhir bahagia
Karena cinta yang bisa membuat bahagia
Karena cinta yang bisa membuat terluka
Karena cinta yang bisa membuat bahagia
Karena cinta yang bisa membuat terluka
Back to [*][**]
Jangan pernah setia
Jangan pernah setia
Bila harus bila harus
Menyakitkan
Karena cinta yang bisa membuat bahagia
Karena cinta yang bisa membuat terluka
Angin dingin mulai sirna
Mendengar batinku barkata
Akan kutunaikan ibadah puasa
Ikhlas karena Allah Yang Maha Esa
Dan semoga engkau yang disana juga
sama
Selamat Makan Sahur Kuucap Sapa
Sebelum waktu imsak tiba ...
Suasana Ramadhan sungguh indah,
Karena berhiaskan cahaya ibadah
Menerangi hati semakin cerah
Buat kita tersenyum Alhamdulillah
Bersyukur Kepada Allah Yang Maha
Pemurah
Sebelum imsak aku menegur
Selamat Makan Sahur !
Makan sahur jangan pake pelepah kates
Ntar buka puasa makannya gak lahap
Biar pantun saya maksa gak boleh protes
Kan dari awal saya udah minta maaf
Jalan-jalan ke tanah Banten
Pulangnya mampir ke pantai Sanur
Ayo lekas kita bangun
Untuk Menikmati makanan sahur
Kukirimkan senyum syukur
Lewat do'a yang tak terukur
Semoga yang disana dah bangun tidur
Sebelum waktu imsak menegur
Selamat Makan Sahur !
Biarpun jauh dari keluarga
Namun janganlah lupa
Bahwa dalam hati mereka
Ada senyum do'a do'a
Agar kita sehat Menjalankan puasa
Di bulan yang berlimpah pahala
Untuk engkau yang disana
Selamat Makan Sahur...ya
Semoga puasa berlimpah pahala ...
Ada nasi ikan dan sayur,
Tersedia diatas meja,
Kuucapkan selamat makan sahur,
Untuk Engkau sekaluarga,
https://www.facebook.com/pages/KALAM-CINTA
Langganan:
Postingan (Atom)