Senin, 30 Desember 2013
Hikmah Maulid Nabi Muhammad saw
HIKMAH MAULID NABI MUHAMMAD SAW oleh PROF. DR. M. QURAISH SHIHAB.
Kenal Allah ? Orang yang beriman pasti percaya kepada Allah. Nah kalo Anda kenal dan percaya pada Allah
dan percaya bahwa Allah itu menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan Anda. Maukah Anda mengetahui apa
yang disukai dan tidak disukai-Nya ? Mau, kalau memang Anda percaya bahwa Dia adalah Wujud.
Kalau orang yang beriman pasti percaya bahwa Dia yang mencipta dan mengatur alam semesta ini, lalu
bagaimana berhubungan dengan Beliau ? Apa sajakah yang Dia sukai dan apa sajakah yang tidak Dia sukai ?
Disini perlu ada yang menjelaskan kepada kita.
Ada tidak yang menurut Anda orang yang lengah/salah ? Pasti ada, perlukah orang tersebut diingatkan ?
Kalo kita sayang orang tersebut maka kita perlu mengingatkan.
Ada tidak diantara manusia yang lengah ? Banyak. Perlukah diingatkan ? Perlu.
Siapa yang memberitahu tentang Allah ? Siapa yang mengingatkan yang lengah ? Siapa yang menjelaskan apa
yang Dia sukai dan tidak Dia sukai ? Rasul.
Allah menyampaikan pada Rasul. Rasul yang menyampaikan pada umatnya. Kita manusia, hati kita kotor,
kecerdasan terbatas, tidak bisa langsung kepada Allah. Maka Allah memilih beberapa orang untuk menjadi
rasul untuk dapat menyampaikannya kepada kita.
Itu yang disebut Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 1 :”Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-
orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka
bukti yang nyata”. Maka Allah mengutus Rasul-Nya, seperti yang disebutkan dalam ayat 2 :”(yaitu) seorang
Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran)”.
Jadi Rasul merupakan bukti kebenaran. Sebagai contoh :
Ada orang mengaku dokter, percaya atau tidak ? belum, mungkin dia pembohong, saya perlu bukti bahwa dia
seorang dokter. Cara membuktikan dia seorang dokter bisa dengan melihat ada yang berobat padanya dan
diberi obat lalu dia sembuh. Ok deh, dia memang dokter. Bisa juga dengan melihat ijasahnya sebagai jalan
pintasnya.
Nah, Nabi Muhammad saw diutus, dikatakan oleh ayat tersebut diatas bahwa Rasul adalah sebagai bukti yang
nyata. Di surat An-Nisa “Hai seluruh manusia, telah datang kepada kamu bukti yang nyata, dan kami
menurunkan kepada kamu cahaya Al-Quran”. Bukti yang nyata adalah Rasulullah saw.
Kalau ada satu orang lahir di pedalaman yang tidak memiliki peradaban, miskin, yatim, tidak pandai
membaca dan menulis. Mungkinkah secara logika orang tersebut menjadi orang yang hebat ? Sangat tidak
mungkin.
Nabi Muhammad saw lahir di Mekkah yang tidak berperadaban, yatim, miskin, tidak pandai membaca dan
menulis. Tapi menyampaikan hal-hal yang luar biasa, berhasil meruntuhkan dua emperium Romawi dan Persia
hanya dalam waktu 20 tahun lebih. Dipelajari sejarahnya, ternyata beliau adalah orang yang paling hebat.
Bukankah itu bukti ?
Kenapa sih Nabi Muhammad saw lahir yatim ? Kenapa Nabi Muhammad saw tidak pandai membaca dan menulis ?
Kenapa Nabi Muhammad saw begitu lahir diasingkan ke pedalaman menjauhi ibunya ? Itu semua diatur Tuhan.
Karena Tuhan yang berkehendak mendidik langsung Nabi Muhammad saw. Seandainya bapaknya masih hidup, maka
bapaknya yang akan mendidiknya, akan terpengaruh oleh bapaknya. Kalo dengan ibunya, ibunya bisa
mempengaruhinya. Kalau dia pandai membaca, bacaan akan mempengaruhinya.
Karena itu, di Surat Al-A’raaf : “Wahai Nabi Muhammad, katakanlah aku ini pesuruh Allah kepadamu semua,
Allah pemilik penguasa langit dan bumi, tidak ada Tuhan, tidak ada yang menguasai alam raya ini kecuali
Dia, Allah yang menghidupkan dan mematikan”. “Maka percayalah kepada Allah, dan percaya juga kepada
RasulNya, Nabi yang ummiy (yang tidak pandai membaca dan menulis).” Karena kalo Nabi pandai membaca dan
menulis, orang lain akan mengira bahwa Nabi kita tahu dari bacaan2nya. Jadi kita tidak perlu malu untuk
berkata Nabi Muhammad saw tidak pandai membaca dan menulis.
Lanjutan surat tersebut :”Yang percaya pada Allah”. Jadi jangan duga dia menyuruh orang untuk percaya
padahal dirinya tidak percaya. “Maka ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. Apakah cukup kita
percaya kepada Nabi bahwa dia memang Nabi ? Tidak cukup, perhatikan ayat di atas tersebut, “Ikuti Nabi”.
Tetapi “mengikuti Nabi” juga harus cerdas. Tidak semua yang dilakukan Nabi itu, harus diikuti. Nabi
kawin dengan 9 perempuan sekaligus, kita tidak bisa begitu. Nabi kalo tidur, tidak batal wudhunya. Jadi
tidak bisa semua diikuti. Ada yang perlu diikuti, ada yang tidak boleh diikuti. Harus cerdas pilih2.
Kita lihat ayat lain, “Hai seluruh manusia, telah datang kepadamu, seorang Rasul.” Apakah kita yang
datang kepadanya atau dia yang datang kepada kita ? Dia yang datang. Jangan minta orang datang. Dia
begitu besar perhatiannya kepada kita, sehingga dia datang kepada kita. “dari diri kamu”. Rasul yang
datang ini sejiwa dengan kamu. Dia tahu yang maslahat buat kita. Seperti suami isteri sejiwa. Sebelum
suami bicara, isteri sudah tahu. Jadi apa yang disampaikan Rasul pasti kebaikan buat kamu. “Terasa
sangat berat apa yang menyusahkan kamu”. Rasul seperti seorang yang menyalakan api/lampu. Ada laron
datang kesana, laron ini kalo dibiarkan akan terbakar. Rasul ini sangat2 kasih dan rahmat. “Raufur
rahiim”. Rauf itu adalah memberikan rahmat sesuai dengan apa yang dimilikinya. Rahim adalah memberikan
rahmat sesuai apa yang dibutuhkan oleh yang diberi.
Mana yang lebih baik antara Rauf dan Rahim ? Dua-duanya baik, tapi mana yang lebih baik ? Semisal saya
kasih contoh : Kalo Anda punya uang 10 juta. Ada seorang peminta-minta datang kepada Anda. Kalau Anda
Rauf, maka apa yang Anda miliki diserahkan kepadanya, tapi kalo Rahim, pengemis itu butuh berapa sih
dari Anda ? paling 100 ribu, Anda beri 100 ribu.
Jadi Rahim adalah memberikan sesuai dengan kebutuhan, Rafa atau Rauf itu memberikan sesuai yang Anda
miliki. Nabi Muhammad saw itu Raufun, karena dia mempunyai hubungan yang akrab dengan kamu.
Inti dari sini, adalah Nabi Muhammad saw itu sangat kasih kepada umatnya dan lebih kasih lagi kepada
umatnya yang taat kepada Allah dan RasulNya.
Pertanyaan :
1. Sampai sekarang kita sebagai umat Nabi Muhammad saw belum melihat lukisan wajah Rasulullah, sebagai
pelukis bolehkah saya melukis atau memvisualisasikan wajah beliau dan begitu juga dengan wajah-wajah
Nabi yang lain ?
Ada dua sisi yang ingin saya jelaskan. Dari segi teori, kita bisa melukiskan bagaimana perawakan dan
wajah Nabi Muhammad saw. Kenapa ? Karena riwayat2 yang sampai kepada kita yang menjelaskan tentang sosok
Nabi Muhammad saw sangat sempurna. Dahinya lebar, alisnya tebal hitam, rambutnya terurai sampai ke
telinganya. Giginya sedikit jarang, gigi depannya ada yang patah kena tombak. Itu tergambar semua.
Bagaimana kalo berbicara ? Beliau kalo berbicara sering memukul telapak tangan kirinya dengan jari
telunjuknya, gigit-gigit bibirnya. Dari segi teori tidak ada masalah.
Tapi dalam ajaran agama, ada yang dinamakan “Sadd adz-Dzara’i/menutup kemungkinan”. Kalau itu dibiarkan,
banyak orang yang akan melukis, bisa terbuang-buang di jalan. Tersinggungkah kita ? Daripada tersinggung
dan daripada salah, dilarang. Juga tidak boleh difilmkan, nanti khawatir setelah difilmkan pemeran yang
sebagai Nabi sedang foya-foya di tempat lain. Itu jalan untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan
terhadap gambaran terhadap Nabi. Termasuk juga supaya Nabi tidak dikultuskan. Bisa juga nanti gambaran
terhadap Nabi juga bisa dihina. Kalau mau tahu Nabi, pelajari saja kehidupan dan akhlak beliau.
2. Ada 2 riwayat yang mengatakan Nabi pernah dibelah dadanya, pertama ketika masih kecil dan ketika
beliau Mi’raj. Apakah itu kisah simbolik saja dan apakah tujuannya ?
Betul, memang ada riwayat seperti itu. Riwayat itu bahkan ada yang menguatkannya dengan firman Allah
“Alam Nasrah laka Shadraka”, yang mereka artikan dengan “Bukankah Kami telah membelah dadamu ?”. Tetapi
penafsiran ayat tersebut tidak kuat, tidak disepakati ulama.
Riwayatnya juga mengatakan begitu, ada yg mengatakan ketika beliau muda kecil dan ketika hendak Mi’raj.
Riwayat ini ada yang menerimanya dan ada juga yang menolaknya. Hal demikian tersebut, bukanlah sesuatu
yang wajib kita percayai. Mau percaya silakan, tidak percaya juga tidak apa-apa.
Sekarang ditanya, apa tujuannya ? Bagi mereka yang berkata, dada beliau dibelah, supaya dikeluarkan
kotorannya. Tapi ada yang berkata tidak, itu terdapat dalam satu bacaan maulid yang populer, “Para
malaikat itu tidak mengeluarkan sesuatu yang buruk dari dadanya, tapi ditambah cahaya diatas cahaya ke
dalam dada beliau”. Jadi beda-beda pendapat.
Saya (Quraish Shihab) kalo ditanya, saya tidak percaya ada sesuatu yang buruk yang terdapat dalam diri
Nabi Muhammad saw. Allah sudah ciptakan beliau sempurna untuk jadi tauladan, jadi tidak ada yang buruk.
Kalaupun riwayat itu akan kita terima, kita akan berkata, itu akan menambah cahaya di atas cahaya ke
dalam diri beliau.
3. Bagaimana pendapat Bapak, tradisi membaca shalawat kepada Nabi dalam bahasa Arab ?
Saya (Quraish Shihab) mau bertanya terlebih dahulu, siapa yang paling berjasa kepada kita ? Orang yang paling berjasa adalah orang yang menyelematkan kita dunia akhirat. Bagi kita, adalah Nabi Muhammad saw. Bisakah kita berterima kasih kepada beliau ? Bisakah kita membalas budinya tersebut ? Tidak bisa.
Allah pernah memerintah, kalau ada orang yang ingin menghadap Rasul harus membayar sesuatu supaya Nabi bisa bersedekah dari uang tersebut. Tapi baru satu orang yang melaksanakan, lantas Allah membatalkan perintah tersebut, karena orang tidak bisa membalas budi baik Nabi. Jadi bagaimana cara membalas budi baiknya ?
Karena kita manusia tidak bisa, maka kita minta kepada Allah, “Ya Allah balas budinya”. Itulah shalawat.
Allahumma shalli ala Muhammad, Ya Allah curahkan rahmat kepada Nabi Muhammad saw. Kenapa saya minta kepadaMu ya Allah ? Karena saya tidak bisa membalasnya.
Nah, shalawat ini ada yang diajarkan Nabi, ada pula yang disusun ulama, tetapi selama intinya menggambarkan penghormatan kepada Nabi, atau intinya selama menggambarkan kesyukuran kepada Nabi, maka boleh-boleh saja. Tidak harus dalam bahasa Arab, dalam bahasa Indonesiapun boleh selama ingin mengagungkan beliau, itu baik.
Pemberian shalawatpun ada perintah. Tidak ada perintah Allah yang didahului Allah melakukannya selain shalawat. Innallaha wa malaaikatahu yushalluna alan Nabii. “Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kepada Nabi”. Siapa yang lebih dulu bershalawat ? Allah.
Itu sebabnya orang dianggap sangat kikir jika tidak mau shalawat kepada Nabi. Hanya disuruh bershalawat saja tidak mau. Anda tidak rugi diminta untuk bershalawat (meminta pada Allah agar memberi kepada Nabi rahmat). Itupun kata Allah, kalau kamu minta/bershalawat, maka akan Aku beri juga kepadamu. Itu sebabnya orang yang tidak bershalawat itu sangat kikir, sangat tidak tahu budi.
4. Ada orang seseorang yang mengaku bermimpi bertemu dengan Rasulullah, bagaimana pandangan Islam
mengenai hal ini ?
Mimpi itu bermacam-macam, ada mimpi karena terdapat keinginan yang meluap, tidak terwujud di dunia nyata
masuk ke dunia mimpi. Ada mimpi akibat keadaan yang sedang dialami oleh orang yang sedang tidur. Misal
ada tali di lehernya, dia mimpi tercekik. Ada yang mimpi sudah berada di kamar mandi, dan dia merasa
sudah ingin buang air kecil, ternyata setelah tersadar dia mengompol.
Ada mimpi yang dibuat oleh syetan. Ada syetan yang memang khusus buat Anda bermimpi buruk. Jadi itu
mimpi bohong. Ada mimpi yang benar. Diantara mimpi yang benar adalah yang memimpikan Nabi Muhammad saw.
“Siapa yang memimpikan saya waktu tidur, maka betul-betul sudah mimpi saya, karena syetan tidak bisa
menyerupai saya walau dalam mimpi”, sabda Rasulullah saw.
Ada orang mimpi seorang Nabi bahkan mimpi ketemu Tuhan, itu syetan yang bikin. Itu menyerupai dan
bohong. Tapi kalau mimpi Nabi Muhammad saw, itu benar. Orang bermimpi Nabi Muhammad saw itu suatu hal
yang istimewa. Bagaimana rasanya orang yang Anda hormati berkunjung pada Anda walaupun dalam mimpi ?
5. Dari sekian banyak Nabi yang diutus, maka bagaimana posisi Rasulullah ? Kemudian ajaran yang datang sebelumnya apakah belum lengkap atau bagaimana ?
Masyarakat manusia berkembang terus. Ambil contoh anak kecil. Anak kecil waktu masih bayi belum dikasih nasi, makanannya hanya ASI. Setelah sekian bulan, baru ditambah ASI dengan makanan lain. Setelah itu, dia boleh makan nasi dan seterusnya, tapi masih disuapi. Setelah dewasa, dia makan sendiri.
Perkembangan masyarakat seperti itu juga. Setiap nabi membawa ajaran sesuai dengan perkembangan masyarakat saat itu juga. Setelah umat manusia mencapai tahap kedewasaan, maka datanglah Nabi Muhammad saw menyempurnakan semua yang masih kurang. Nabi Isa as, ajarannya sesuai dengan masyarakat ketika itu. Nabi Nuh demikian juga. Ajaran Nabi Muhammad saw kepada umat manusia ketika umat manusia mencapai kedewasaannya.
Itulah sebabnya, ajaran nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw sangat rinci, tapi ajaran Nabi Muhammad saw tidak rinci. Ajaran Nabi Muhammad saw yang rinci adalah hal-hal yang tidak diketahui oleh nalar. Seperti tentang hari kemudian, itu rinci. Dan yang rinci itu adalah yang tidak bisa berubah lagi. Tapi yang bisa berubah, yang mengalami perkembangan diserahkan kepada akal manusia untuk menyusunnya tetapi yang diberikan hanya nilai-nilainya.
Jadi bagaimana kalau ditanya posisi nabi-nabi yang lalu ? Mereka telah melaksanakan tugasnya untuk masyarakatnya masing-masing, kalau setelah masyarakat manusia telah mencapai kedewasaannya maka diutuslah Nabi Muhammad saw membawa ajaran itu.
KESIMPULAN :
1. Umat manusia membutuhkan Rasul. Karena sekian banyak yang tidak dapat dijangkau oleh nalar manusia.
2. Rasul yang diutus Allah ini selalu sesuai dengan perkembangan masyarakat, tetapi setelah masyarakat manusia telah mencapai kedewasaannya diutuslah Nabi Muhammad saw. Dan Nabi Muhammad saw itu dijadikan bukti kebenaran, sosoknya adalah bukti kebenaran, ajarannya Al-Quran adalah bukti kebenaran pula.
3. Kita tidak hanya dituntut untuk percaya pada Nabi Muhammad saw, tapi juga dituntut untuk mengikuti/meneladani beliau, hanya saja yang perlu digarisbawahi harus meneladani secara cerdas.
4. Sifat Nabi Muhammad saw yang menonjol adalah kasih kepada umatnya, rahmat kepada seluruh makhluk dan selalu menginginkan kebaikan kepada umat manusia.
http://blogpaser.wordpress.com/2012/05/07/hikmah-maulid-nabi-muhammad-saw/
Maulid Nabi Muhammad SAW
Makna Maulid
Maulid nabi besar Muhammad SAW yang diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awwal itu mengenang hari lahirnya sang penuntun alam utusan Allah Swt. Nabi Muhammad Saw adalah nabi yang yang terang benderang, beliau di utus oleh Allah sebagai Nabi terakhir, dan mengembang tugas untuk menyebarkan atau menyampaikan wahyu Allah (Al-Qur’an) untuk di jadikan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia di dunia.
Arti Maulid Nabi Kata Maulidd berasal dari bahasa Arab yang beratrti lahir, peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw merupakan suatu tradisi yang berkembang setelah Nabi SAW wafat, dengan di peringatinya Maulid Nabi Saw ini yang merupakan suatu wujud ungkapan kegembiraan juga penghormatan kepada sang utusan Allah karena berkat jasa beliau ajaran agama islam sampai kepada kita.
Tujuan Peringatan Maulid Nabi Tujuan diperingatinya Maulid Nabi SAW ini adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada beliau (nabi Muhammad Saw) yang mengenang jasa beliau menyampaikan ajaran islam kepada kita semua .
Namun, perayaan Maulid di beberapa daerah sudah menjadi tradisi yang mengarah kepadapraktek , syirik misalnya berkorban untuk alam, menyajikan sesajen dan sebagaimana yang sangat kontradiktif dengan aturan syariat agama. Hal itu perlu duluruskan, bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw bukan sekedar hanya seremonial saja .
Tetapi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dilaksakan atau diperingati sebagai bentuk mengenang atau mengingat kembali sejarah di utusnya nabi muhammad kemuka bumi ini yang mengembang visi dan misi bahwa Nabi Muhammad SAW di utus sebagai Rohmatan Lilalamin, selain itu juga untuk mengingat sejarah kehidupan beliau yang harus di teladani, mengingat suatu pribadi yang agung untuk di jadikan contoh oleh para umatnya.
Ketika mengenang peristiwa Maulid Nabi Muhammad Saw ini sebagai bentuk penyadaran atau mengingatkan kepada seluruh umat beliau atas nikmat keberlangsungan risalah kenabian yang member manfaat sangat besar bagi kaumnya.
Bagi umat islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sarana untuk memperbaharui keyakinan terhadap kesaksian bahwa beliau Nabi Muhammad Saw di utus sebagai Rasull.
Dengan diperingatinya Maulid Nabi Muhammad SAW ini adalah bukan sekedar mengingat saja tetapi kita selaku umat beliau harus mencontoh dalam semua perbuatan dan berusaha melaksanakan sunnah-sunnah beliau, dam mempertahankan sunnah Rasull Muhammad SAW dari segala bentuk penyelewengan dan penyimpangan juga dari serangan mereka yang benci terhadap ajaran Nabi Muhammad SAW.
Peringatan Maulid nabi Muhammad Saw diperingati atau dirayakan adalah sebagai bekal satu upaya untuk mengenang dan mengenal bahwa mencontoh keteladanan Nabi Muhammad baik di tinjau dari sisi individu kehidupannya yang sholeh maupun di tinjau dari sisi amanah yang di bawa oleh beliau yaitu ajaran agama sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan pemimpin yang besar dan luar biasa yang member sauri teladan bagi umatnya.
Hikmah Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Perayaan Maulid dibeberapa daerah sudah menjadi tradisi, bahkan ada yang mengarah ke praktik syirik dengan mengadakan sesajian, berkurban untuk alam, laut misalkan, pemubadziran makanan atau harta, ikhtilath atau campur baur laki-laki dan perempuan, praktek yang mengancam jiwa dengan berdesak-desakan atau rebutan makanan, dan lainnya yang bertentangan dengan syari’at.
Dibalik semua perayaan yang berlangsung tersebut ada hal yang paling penting kita maknai, agar perayaan itu bukan sekedar seremonial belaka. mungkin bisa menjadi pembuka yang bagus bagi anda yang bagi anda yang belum tahu bagaiman sejarahnya
Peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah saw., mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah swt. tegaskan sebagai rahmatan lil’alamin.
Syaikh Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional, mengungkapkan dalam situs beliau:“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”
Kenyataan saat ini telah membuktikan, bahwa disebabkan belum bersungguh-sungguhnya kita dalam meneladani Rasulullah SAW dalam mengarungi perjuangan hidup, maka kehidupan kaum muslimin saat ini cenderung terperosok menjadi ummat terbelakang, dibandingkan dengan ummat-ummat lain di hampir semua bidang kehidupan.
Oleh karena itu, jika kondisi kehidupan kita ingin berubah, maka yang harus kita lakukan adalah mau dan berani merubah kebiasaan hidup kita ini.
Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah segala sesuatu yang ada pada diri mereka sendiri” (QS.23. Ar-Ra’du : 11).
Imam Ibnu ‘Atho’illah dalam kitab Al-Hikam menyatakan :“Bagaimana mungkin keadaanmu akan berubah menjadi luar biasa, sedangkan kamu belum mau merubah kebiasaan-kebiasaaan hidupmu”.
Kebiasaan mengabaikan teladan Rasulullah SAW dalam kehidupan kita sehari-hari ternyata membawa kita kepada kemunduran derajat hidup, maka jika ingin berubah menjadi ummat yang maju dan bermartabat, kita harus merubah kebiasaan kita.
Kita harus tinggalkan sikap menyepelekan dan mengabaikan uswahtul hasanah Rasulullah SAW. Kita harus bersungguh-sungguh dan lebih bersungguh-sungguh lagi dalam mengenal dan mengikuti teladan Rosulullah SAW dalam hidup ini.
Kesungguhan kita dalam mengikuti teladan Rasulullah SAW secara utuh dalam mengarungi perjuangan hidup ini adalah kunci menuju kehidupan ummat yang lebih maju dan bertartabat di masa yang akan datang.
Imam Ibnu Atho’illah menyatakan : “Janganlah kamu membanggakan warid yang belum kamu ketahui buahnya. Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan adanya awan itu bukanlah hujan. Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan adanya awan adalah wujudnya buah-buah pepohonan”.
Al-Hamdulillah jika kita dapat menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan meriah. Namun hendaknya jangan terlalu bangga dahulu. Sebab terselenggaranya acara itu baru ibarat awan. Meriahnya suasana baru laksana hujan. Bagaimana dengan buahnya ?. Sudah wujudkah ?.
Buahnya adalah “Mutiara hikmah dan perubahan”. Perubahan menjadi lebih baik. Lebih utuh dan lebih bersungguh-sungguh dalam meneladani Rosulullah SAW dalam seluruh sisi kehidupan kita. Kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan dunia.
Rasullah SAW adalah rahmat bagi semesta alam, kebaikan dan keberkahannya tidak hanya didapatkan oleh orang-orang yang semasanya dan tidak pula berakhir dengan wafatnya.
Kepada Nabi Muhammad SAW, Allah SWT berfirman, ” dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) kententraman jiwa bagi mereka. Allah Maha mendengar, maha mengetahui.” (Qs. At-Taubah: 103).
Allahumma inni atawajjahu ilaika binabiyyika nabiyyirrahmati Muhammadin shallallahu `alaihi wa alihi. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dan menghadap kepada-Mu dengan (perantaraan) Nabi-Mu, nabi pembawa rahmat, Nabi Muhammad, shalawat atasnya dan atas keluarganya.
Jumat, 04 Oktober 2013
Belajar Dari Sebuah Telur
Belajar Dari Telur :
Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari luar, maka kehidupan didalam telur akan berakhir.
Tapi...
Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam,maka kehidupan baru telah lahir... hal-hal besar selalu dimulai dari dalam.
Allah.Swt tidak pernah menjanjikan bahwa :
- Langit itu selalu biru
- Bunga selalu mekar
- Mentari selalu bersinar
Tapi ketahuilah bahwa DIA selalu memberi:
- Pelangi .....disetiap badai
- Senyum .....disetiap air mata
- Berkat .......disetiapcobaan
- Jawaban .....disetiap doa
Jangan pernah menyerah, terus berjuanglah,
"Li fe is so beautiful"
- Hidup adalah tantangan,....Hadapilah
- Hidup adalah anugerah,.... Terimalah
- Hidup adalah tugas,..........selesaikanlah
- Hidup adalah cita2,...........capailah
- Hidup adalah misteri,........singkapkanlah
- Hidup adalah kesempatan,.. ambillah
- Hidup adalah lagu,............nyanyikanlah
- Hidup adalah janji,............penuhilah
- Hidup adalah keindahan,...bersyukurlah
- Hidup adalah teka-teki,.....pecahkanlah
1 hal yang buat kita bahagia adalah cinta
1 hal yang buat kita tambah dewasa adalah masalah
1 hal yang buat kita hancur adalah....putusasa
1 hal yang buat kita maju adalah....usaha
1 hal yang buat kita kuat adalah....DOA
Semoga ALLAH senantiasa membimbing kita agar tetap istiqomah dalam melakukan kebaikan dan memberikan kelapangan hati kita untuk menjadikan kita pribadi yang luar biasa. Aamiinn...
(Cantumkan jika ada doa khusus agar kami para jamaah bisa mengaminkannya)
Silahkan Klik Like dan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu senantiasa istiqomah dan bisa meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.
GOLONGAN ORANG YANG SELALU DIDOAKAN OLEH MALAIKAT
Assalamu'alaikum
Bismillahirrahmanirrahim
"Sebenarnya (Malaikat-Malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perint ah-Nya.
Allah mengetahui segala apa yang ada di hadapan mereka dan yang ada di belakang mereka. Dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati-hati kerena takut kepada-Nya." (Q.S. Al-Anbiya' 26-28)
Lalu siapakah orang-orang yang selalu didoakan kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat oleh para Malaikat? Mereka adalah :
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Dalam hal ini kita dianjurkan untuk berwudlu' menjelang istirahat.
2. Orang yang duduk menunggu waktu Shalat. Dalam hal ini seseorang mensegerakan diri untuk bersiap-siap menunggu waktu Shalat sebelum adzan berkumandang.
3. Orang yang ada pada Shaf terdepan ketika Shalat berjemaah.
4. Orang yang menyambung Shaf (tidak membiarkan kosong) ketika Shalat berjema'ah.
5. Orang yang masih berada di tempat Shalatnya setelah selesai melakukan Shalat. Artinya ia menyempatkan diri untuk berdzikir & berdoa setelah menunaikan Shalat.
6. Orang yang Shalat berjemaah pada waktu Shubuh dan 'Ashar.
7. Orang yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama Muslim) tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya.
8. Orang yang suka berinfak.
9. Orang yang sedang makan sahur pada bulan Ramadhan.
10. Orang yang suka menjenguk saudaranya yang sedang sakit.
11. Orang yang suka mengajarkan serta menasehatkan kebaikan kepada orang lain.
Insya Allah kita termasuk golongan orang-orang yang demikian.
Aamiin
Senin, 16 September 2013
Mari simak arti ayat di sebuah surat Ar-Rahman
Pernahkah anda membaca surat Ar-Rahman ?
Surat ar-Rahman adalah surat ke 55 dalam urutan mushaf utsmany dan tergolong dalam surat Madaniyah serta berisikan 78 ayat.
Satu hal yang menarik dari kandungan surat ar-Rahman adalah adanya pengulangan satu ayat yang berbunyi :
"Fabiayyi 'aalaa i rabbikumaa tukadzibaan" (Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?).
Kalimat ini diulang berkali-kali dalam surat ini. Apa gerangan makna kalimat tersebut?
Surat ar-Rahman bagi saya adalah surat yang memuat retorika yang amat tinggi dari Allah.
Setelah Allah menguraikan beberapa ni’mat yang dianugerahkan kepada kita, Allah bertanya: "Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?".
Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata "dusta"; bukan kata "ingkari", "tolak" dan kata sejenisnya.
Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni’mat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingkari keberadaannya oleh manusia.
Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya.
Dusta berarti menyembunyikan kebenaran.
Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi ni’mat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya!
Bukankah kalau kita mendapat uang yang banyak, kita katakan bahwa itu akibat kerja keras kita.
Kalau kita berhasil menggondol gelar Ph.D itu dikarenakan kemampuan otak kita yang cerdas.
Kalau kita mendapat proyek maka kita katakan bahwa itulah akibat kita pandai melakukan lobby.
Pendek kata, semua ni’mat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita saja. Tanpa sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita dan kita dustakan bahwa sesungguhnya ni’mat itu semuanya datang dari Allah.
Maka ni’mat Tuhan yang mana lagi yang kita dustakan!
Anda telah bergelimang kenikmatan, telah penuh pundi-pundi uang anda, telah berderet gelar di kartu nama anda, telah berjejer mobil di garasi anda.
Ingatlah baik2, anda dustakan atau tidak, semua ni’mat yang anda peroleh hari ini akan ditanya oleh Allah nanti di hari kiamat!
"Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan ni’mat yang kamu peroleh saat ini" ( QS 102:8 )
Sudah siapkah anda menjawab serta mempertanggung jawabankannya ???
Allah berfirman : FAIN TAUDDU NI’MATALLAHI LA TUKHSUUHA
Apabila kamu menghitung nikmat Allah ( yang diberikan kepadamu ) maka engkau tidak akan mampu (karena terlalu banyak).
Tidak patutkah anda bersyukur kepadaNYA ?
Mari mengucap Alhamdulillah sebagai bagian dari rasa syukur kita
Wassalam,
Insya Allah Bermanfaat
Sampaikanlah kepada orang lain, maka ini akan menjadi Shadaqah Jariyah pada setiap orang yang Anda kirimkan pesan ini. Dan apabila kemudian dia mengamalkannya, maka kamu juga akan ikut mendapat pahalanya sampai hari kiamat...
Ada 2 pilihan untuk Anda:
1. Biarkan di dalam BBM, catatan atau pikiran Anda tanpa bermanfaat untuk orang lain.
2. Anda sebarkan pada semua kenalan anda. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkan, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.
SUBHANALLAH...
Kamis, 05 September 2013
EMPAT TINGKATAN BERWUDHU
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Wudhu memiliki empat tingkatan kualitas. Bagaimanakah kualitas wudhu kita?
Dalam tradisi Islam berwudhu merupakan salah satu inti dari sebuah ajaran islam. Dalam kitab-kitab klasik Islam, berwudhu (taharah) termasuk bab-bab awal yang ditekankan oleh ulama untuk memahaminya secara menyeluruh.
Karena berwudhu ini menjadi sangat penting dan bahkan kunci dalam beribadah. Maka tidak sah, ibadah yang kita lakukan tanpa dengan berwudhu (bersuci).
Imam Al Ghozali menjelaskan secara cerdas membahas bab toharoh(bersuci) di Kitab Mursyidul Amin-nya bahwa dalam melaksanakan wudhu adalah kunci ibadah. Artinya, tidak akan sah ibadah tanpa berwudhu.
Selain itu Imam Al Ghozali juga membuat tingkatan-tingkatan wudhu yang dilakukan oleh seorang muslim. Tidak bisa seorang muslim mencapai derajat yang tertinggi sebelum melewati derajat yang terendah. Yuk kita lihat..,
1. Wudhu untuk membersihkan dari hadas (kotoran dan najis) ...
Inilah tingkatan terendah dari kualitas wudhu seorang muslim. Pernah mendengar pertanyaan, “mengapa yang buang angin dibelakang, tetapi yang disiram bukan bagian itu tetapi bagian yang lain?”.
Salah satu esensi berwudhu adalah menghilangkan hadast (kotoran dan najis). Membersihkan anggota fisik dari kotoran. Apabila kita buang air kecil, air seni ya disiram dan membersihkan air seni tersebut yang menempel di tubuh kita. Kalau ada kotoran seperti daki, bekas cat, dll. Ini adalah tingkatan terendah wudhu seseorang. Menghilangkan kotoran dan najis dari fisik kita.
Secara sederhana, tingkatan wudhu dalam kondisi ini contohnya adalah, ketika kita berkumur di mulut sambil menggosok-gosokan gigi dan menghilangkan kotoran sisa makanan di gigi. Begitu juga ketika membersihkan hidung, kita harus bersungguh dalam mengeluarkan kotoran hidung kita secara sempurna. Begitupun untuk seluruh anggota wudhu.
2. Wudhu untuk membersihkan anggota badan (fisik) dari perilaku dan dosa ...
Tingkatan berikutnya dalam berwudhu adalah wudhu untuk membersihkan anggota badan fisik dari perbuatan dan tindakan tercela. Bukan hanya membersihkan dari kotoran semata, wudhu perilaku ini sambil menghayati setiap membersihkan anggota wudhu kita juga berdo’a dan berharap kepada Allah untuk terhindar dari perilaku anggota wudhu tersebut.
Contohnya, ketika kita membersihkan mulut tidak hanya membersihkan kotoran tetapi juga sambil berdo’a dalam hati “Ya Allah bersihkanlah mulut ini dari omongan yang menyakiti hati orang lain, perkataan yang tidak berguna dan suka membicarakan keburukan orang lain”.
Begitu juga ketika kita membersihkan wajah kita, dalam hati kita berdo’a “ Ya Allah hindarilah mata ini dari melihat, mencium dan mengatakan yang tidak halal”. Begitupun seterusnya untuk anggota wudhu lainya.
3. Wudhu untuk membersihkan hati dari ahlak tercela ...
Setelah dua tingkatan tersebut, tingkatan wudhu berikutnya adalah me-wudhukan hati dan perasaan kita dari sifat-sifat hati yang dilarang Allah. Berwudhu pada tingkatan ini, kita harus berusaha membersihkan hati dari sidat iri, dengki, ujub, riya dsb yang merupakan kotoran-kotoran hati. Wudhu ini sulit dilakukan. Kita tidak bisa melewati tingkatan di wudhu ini tanpa melewati dua tingkatan wudhu di atas.
4. Wudhunya Para Nabi dan shadiqin ...
Ini tingkatan wudhu yang paling akhir dengan derajat paling tinggi. Yaitu wudhunya para nabi dan shadiqqin.Tidak bisa dibayangkan seperti apa sempurna-nya wudhu Para Nabi dan shadiqqin ini, selain menyempurnakan wudhu dengan pembersihan fisik dari kotora , perilaku tercela dan hati yang tidak baik, Para Nabi menyempurnakan wudhu-nya ini dengan membersihkan segala sesuatu yang mengotori pengabdianya kepada Allah SWT.
Termasuk kondisi tidak khusyuk, (saya semakin sulit menjelaskanya, karena dialah yang merasakanya).
Dengan mempelajari empat tingkatan berwudhu yang disampaikan oleh Imam Ghozali, kita berusaha bercermin, Bagaimana kualitas wudhu kita?.
ibadah ini menjadi refleksi bagi kita betapa kualitas wudhu kita selama ini hanya sebagi rutinitas dan kewajiban semata ? atau kita ikut menghayati makna wudhu sebagai media untuk terus memperbaiki diri. Keep wudhu! ...
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...
Selasa, 03 September 2013
Penyebab Sulit Dekat dengan Alloh
Penyebab Sulit Dekat dengan Alloh
Adalah sibuknya mencari kedudukan di hati manusia
Semakin ingin dipuji,
Ingin diakui kemampuannya,
Ingin diketahui keluasan ilmunya
Ingin dikagumi "kelebihan-kelebihan"nya
Ingin dianggap sebagai orang yg sabar dan tabah
Ingin diakui dan dihargai sebagai orang yg berjasa,
Da lain-lain..
Semakin kuat keinginan kita untuk berkedudukan di hati makhluk, berarti kita tak peduli dengan kedudukan di sisi Alloh
Padahal kecukupan, kebahagiaan dan kemuliaan hanya akan ada bagi orang yang berkedudukan di sisi-Nya,
Dia-lah satu-satunya penguasa segala karunia, amat mudah bagi-Nya mengangkat dan memberi kedudukan di hati makhluk, namun semua itu adlah urusan-Nya bukan urusan kita
Urusan kita adalah fokus hanya mencari ridho-Nya dari sekecil apapun yang kita lakukan
Hasbunalloh wani'mal wakiil ni'mal maulaa wa ni'mannashiir
Adalah sibuknya mencari kedudukan di hati manusia
Semakin ingin dipuji,
Ingin diakui kemampuannya,
Ingin diketahui keluasan ilmunya
Ingin dikagumi "kelebihan-kelebihan"nya
Ingin dianggap sebagai orang yg sabar dan tabah
Ingin diakui dan dihargai sebagai orang yg berjasa,
Da lain-lain..
Semakin kuat keinginan kita untuk berkedudukan di hati makhluk, berarti kita tak peduli dengan kedudukan di sisi Alloh
Padahal kecukupan, kebahagiaan dan kemuliaan hanya akan ada bagi orang yang berkedudukan di sisi-Nya,
Dia-lah satu-satunya penguasa segala karunia, amat mudah bagi-Nya mengangkat dan memberi kedudukan di hati makhluk, namun semua itu adlah urusan-Nya bukan urusan kita
Urusan kita adalah fokus hanya mencari ridho-Nya dari sekecil apapun yang kita lakukan
Hasbunalloh wani'mal wakiil ni'mal maulaa wa ni'mannashiir
Langganan:
Postingan (Atom)