Jumat, 21 Juni 2013
IMAM AHMAD DAN KULI
Suatu hari putra Imam Ahmad menyewa seorang kuli untuk mengangkat barang dari pasar ke rumah. Ketika sampai di rumah beliau, kuli itu mencium aroma roti. Mereka (keluarga Imam Ahmad) memberinya sepotong, tetapi sang kuli menolaknya. Ketika sang kuli meninggalkan rumah beliau, Imam Ahmad memerintahkan putranya untuk mengejarnya dan memberikan roti itu kepadanya. Anehnya sang kuli mau menerimanya. Peristiwa ini menarik perhatian putra Imam Ahmad dan ia pun bertanya kepada ayahnya:
“Duhai ayah, mengapa ia mau menerima roti itu setelah meninggalkan rumah ini, sedangkan sebelumnya ia menolaknya?”
“Kuli itu seorang yang saleh. Ia sedang berpuasa. Ketika mencium aroma roti tersebut nafsunya menginginkannya. Oleh karena itu, ketika diberi roti itu ia menolaknya. Setelah ia pergi, nafsunya sudah tidak menginginkan roti itu lagi, maka ketika engkau memberikannya, ia pun menerimanya,” jawab Imam Ahmad.
Hikmah Di Balik Kisah
Orang-orang yang beriman menerapkan adab dalam semua segi kehidupan mereka, termasuk di antaranya adab saat menerima atau menolak pemberian. Habib ‘Abdullâh Bin ‘Alwî Al-Haddâd dalam salah satu nasihatnya berkata:
Jika engkau menerima pemberian dari seseorang, maka yakinilah dalam hatimu bahwa pada hakikatnya yang memberi adalah Allâh Ta’âlâ, dan jangan tautkan hatimu kepada makhluk Allâh. Jika hatimu sudah mampu bersikap demikian, terimalah pemberian itu dan jangan khawatir. Menerima pemberian yang tidak disukai (yang tidak terpuji) adalah jika seseorang menerima sesuatu sedangkan nafsunya sangat menginginkannya. Ia menginginkan sesuatu itu dari tempat tertentu. Orang-orang terdahulu, mereka menolak pemberian yang sangat diinginkan oleh nafsu mereka.
_______________________________
Habîb ‘Ahmad bin Hasan bin ‘Abdullâh Bin ‘Alwî bin Muhammad bin Ahmad Al-Haddâd, Tatsbîtul Fuâd, juz.2. hal.178.
Di Jelaskan Oleh Guru kita Al-Allamah Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa , ketika Sayyidina Imam Abdullah bin Abdurrahman balfageh, Allamatuddunya ketika ia datang ke musim haji, dia seorang ulama besar hujjatul islam seorang imam besar disebut Allamtudunya karena dia disebut oleh ulama demikian karena ulama pada saat itu mengakui dia derajat nomer satu dari seluruh ulama dunia, ia pergi haji, tidak ketahuan karena pakaiannya sama semua, ketika masih memakai pakaian ihram hadir pengajian yang dihadiri guru - guru imam imam, para ulama dunia, terus berkata mufti Mekkah pada saat itu," aku ada satu masalah yang belum kutemukan jawabannya, kebetulan ini imam imam dari seluruh dunia hadir, aku ingin tanya, tolong jawabannya karena aku tidak tahu jawabannya," maka disebutkan pertanyaannya, tidak ada satupun yang bisa menjawab. Maka disitu ada Imam Abdullah bin Abdurrahman balfageh namun tidak ketahuan karena masih memakai pakaian ihram ( yang lain sudahselesai namun ia belum selesai ihram ) maka duduk dibelakang, dan dia adalah yang tertinggi ilmunya dimasa itu, dan di seluruh ulama dunia, dia berkata kepada pemuda disebelahnya," kamu angkat tangan jawab! jawabannya ini," kemudian ( berkata pemuda itu ), " aku bisa menjawab wahai mufti Mekkah!" maka melirik seluruh ulama dunia itu, semua ulama yang hadir melirik ke pemuda ini, nah pemuda ini telah dikasih tahu jawabannya, " jawabannya ini," kaget seluruh ulama dunia ini termasuk mufti Mekkah " hei bukan kamu yang menjawab pasti, darimana kamu dapat jawab ini? jawaban ini tidak ada yang mengetahui kecuali Allamatuddunya Abdullah bin Abdurrahmna Balfageh,Allamatuddunya, maka saat itu dia berkata," aku dengar dari orang ini," maka berkata ( mufti ), " wahai imam! wahai imam besar maju kedepan kami ingin mendengar daripada ilmumu" maka dia berkata " aku tidak mempunyai waktu, aku ingin pulang,hanya beberapa hari saja aku tinggal disini," " walau beberapa haripun kami ingin membaca kitab" " iya tidak apa apa, " ia tinggal sampai satu bulan di Mekkah Almukarramah ngajar tiap harinya maghrib tentang satu kitab tapi masih tentang makana huruf ba', satu bulan belum selesai. baru ba'nya saja ditafsirkan , maknanya begini satu bulan sampai waktunya pulang belum selesai baru huruf ba', demikian ulama ulama kita dulu. "
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha menciptakan alam semesta ini dan menjadikan setiap yang ada di alam semesta sebagai penuntun kepada keindahan-Nya, penuntun pada keagungan-Nya, sebagai penuntun bahwa Dia lah Yang Maha Ada dan Maha mengatur segala sesuatu. Semakin seorang hamba menghayati segala sesuatu yang ada di alam ini maka ia akan semakin memahami bahwa ia sangat tidak berdaya dibanding dengan Sang Maha Pencipta. Sungguh Sang Maha Raja alam semesta membukakan bagi kita hikmah-hikmah Ilahi dari waktu ke waktu dan dari zaman ke zaman, dan Allah subhanahu wata’ala telah menuntun hamba-hamba-Nya, hamba yang baik akan disiapkan baginya kebaikan, dan hamba yang jahat selalu dinanti untuk kembali kepada kelompok yang baik , Dialah ( Allah ) hakikat Yang Maha Baik dan mengawali kebaikan serta membagi-bagikan balasan-balasan luhur di dunia dan akhirah, sebagaimana firman-Nya subhanahu wata’ala : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” ( QS : Al Baqarah : 186 )
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 3)
Sungguh Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?
Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri.
Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan. Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,
أتروْن هذه طارحةً ولدَها في النار؟
“Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?”
Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali:
الَلَّهُ أرحمُ بعباده مِن هذه بولدها
“Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari).
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 3)
Sungguh Manusia adalah makhluk lemah. Tak kuasa untuk bersih dari dosa dan maksiat. Ditambah dengan godaan pasukan iblis yang berusaha selalu menyeretnya ke dunia hitam. Tidak ada yang maksum kecuali para Nabi yang Allah lindungi dari dosa. Di saat yang sama, Allah membuka pintu taubat yang seluas-luasnya, agar mereka tidak putus asa dari rahmat Sang Pencipta. Tinggal satu yang perlu digugah: Kapan saatnya kita mau bertaubat?
Jika Allah sangat menyayangi kita, mengapa diri kita tidak menyayangi diri kita sendiri.
Dalam perjalanan pulang dari peperangan, kaum muslimin membawa kemenangan besar. Mereka pulang dengan membawa harta rampasan dan tawanan. Tiba-tiba ada seorang ibu diantara tawanan itu, yang kebingungan mencari anaknya. Sampai akhirnya ketemu dan dia susui. Melihat hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat,
أتروْن هذه طارحةً ولدَها في النار؟
“Mungkinkah wanita ini akan melemparkan anaknya ke api?”
Para sahabat spontan menjawab: “Demi Allah, tidak mungkin.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian menimpali:
الَلَّهُ أرحمُ بعباده مِن هذه بولدها
“Allah lebih menyayangi hamba-Nya, dari pada kasih sayang ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari).
Al Habib Munzir bin Fuad Al musawa beliau bercerita :
Saya pernah didatangi para pemuda yg mengeluhkan seorang Kyai yg sangat bengis, tajam bicaranya, keras kepala dan dibenci oleh masyarakat sekitar, ia selalu mencaci siapa saja diatas mimbar, dan rupanya saya adalah dari orang yg paling ia benci.. ia selalu memaki maki saya dimanapun ia mengajar, saya sempat kesal dan bertanya tanya :
"apa salah saya padanya?", ternyata karena banyak dari pemuda di wilayahnya tak mau belajar padanya dan mereka hadir di majelis majelis saya yg cukup jauh dari wilayah itu.. suatu hari saya bertemu dengannya disatu masjid besar, kebetulan ia khutbah jumat, sedangkan masyarakat masjid itu adalah sebagian besar murid murid saya, sampai Ketua Masjid sudah pucat melihat saya datang tuk shalat jumat, maka ketua masjid menawarkan saya khutbah jumat dan menggagalkan kyai itu, tentunya saya menolak, saya biarkan saja ia naik berkhutbah, ia tak tahu bahwa saya ada di shof hadirin, ketika selesai shalat jumat ia masih duduk berdoa, maka saya mendekati dia, saya mencium tangannya, lalu saya bersimpuh dan mencium pahanya, bagai anak yg sangat memuliakan dan mencintai ayahnya yg sudah lanjut usia, ia kaget, ia tak tahu bahwa inilah orang yg ia selalu caci maki, saya pergi.. ia pun bertanya tanya siapa itu pemuda tadi yg pakai sorban dan ia mencium kaki saya?, orang orang berkata : dia itu orang yg selalu pak kyai caci maki.., dia itu Ustaz Munzir..!, maka ia berubah total.. kini dimanapun ia naik mimbar pasti ia memuji saya, diantara kata katanya : "siapa berani menentang habib munzir maka hadapi saya!" begitu saudariku, tiap kali ia jumpa saya pasti ia memeluk saya dan menangis...
Istri Nabi Muhammad - Aisyah binti Abu Bakar
Rasulullah saw membuka lembaran kehidupan rumah tangganya dengan Aisyah r.a yang telah banyak dikenal. Ketika wahyu datang pada Rasulullah saw, Jibril membawa kabar bahwa Aisyah adalah istrinya didunia dan diakhirat, sebagaimana diterangkan didalam hadits riwayat Tirmidzi dari Aisyah r.a,
“Jibril datang membawa gambarnya pada sepotong sutra hijau kepada Nabi saw, lalu berkata.’ Ini adalah istrimu didunia dan di akhirat.”
Dialah yang menjadi sebab atas turunnya firman Allah swt yang menerangkan kesuciannya dan membebaskannya dari fitnah orang-orang munafik.
Aisyah dilahirkan empat tahun sesudah Nabi saw diutus menjadi Rasul. Semasa kecil dia bermain-main dengan lincah, dan ketika dinikahi Rasulullah saw usianya belum genap sepuluh tahun. Dalam sebagian besar riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw membiarkannya bermain-main dengan teman-temannya.
Dua tahun setelah wafatnya Khadijah r.a datang wahyu kepada Nabi saw untuk menikahi Aisyah r.a. Setelah itu Nabi saw berkata kepada Aisyah, “Aku melihatmu dalam tidurku tiga malam berturut-turut. Malaikat mendatangiku dengan membawa gambarmu pada selembar sutra seraya berkata,’ Ini adalah istrimu.’ Ketika aku membuka tabirnya, tampaklah wajahmu. Kemudian aku berkata kepadanya,’ Jika ini benar dari Allah swt , niscaya akan terlaksana.”
Mendengar kabar itu, Abu Bakar As Siddiq dan istrinya sangat senang, terlebih lagi ketika Rasulullah saw setuju menikahi putri mereka, Aisyah. Beliau mendatangi rumah mereka dan berlangsunglah pertunangan yang penuh berkah itu. Setelah pertunangan itu, Rasulullah saw hijrah ke Madinah bersama para sahabat, sementara istri-istri beliau ditinggalkan di Mekah. Setelah beliau menetap di Madinah, beliau mengutus orang untuk menjemput mereka, termasuk didalamnya Aisyah r.a.
Dengan izin Allah swt menikahlah Aisyah dengan mas kawin 500 dirham. Aisyah tinggal di kamar yang berdampingan dengan masjid Nabawi. Di kamar itulah wahyu banyak turun, sehingga kamar itu disebut juga sebagai tempat turunnya wahyu.
Dihati Rasulullah SAW, kedudukan Aisyah sangat istimewa, dan tidak dialami oleh istri-istri beliau yang lain. Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dikatakan, “Cinta pertama yang terjadi didalam Islam adalah cintanya Rasulullah saw kepada Aisyah r.a.”
Didalam riwayat Tirmidzi dikisahkan “Bahwa ada seseorang yang menghina Aisyah dihadapan Ammar bin Yasir sehingga Ammar berseru kepadanya,’ Sungguh celaka kamu. Kamu telah menyakiti istri kecintaan Rasulullah saw.”
Sekalipun perasaan cemburu istri-istri Rasulullah SAW terhadap Aisyah sangat besar, mereka tetap menghargai kedudukan Aisyah yang sangat terhormat. Bahkan ketika Aisyah wafat, Ummu Salamah berkata, ‘Demi Allah swt, dia adalah manusia yang paling beliau cintai selain ayahnya (Abu Bakar)’.
Di antara istri-istri Rasulullah saw, Saudah binti Zam'ah sangat memahami keutamaan-keutamaan Aisyah, sehingga dia merelakan seluruh malam bagiannya untuk Aisyah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Aisyah sangat memperhatikan sesuatu yang menjadikan Rasulullah saw rela. Dia menjaga agar jangan sampai beliau menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan darinya. Karena itu, salah satunya, dia senantiasa mengenakan pakaian yang bagus dan selalu berhias untuk Rasulullah saw.
Menjelang wafat, Rasulullah saw meminta izin kepada istri-istrinya untuk beristirahat dirumah Aisyah selama sakitnya hingga wafat. Dalam hal ini Aisyah berkata, “Merupakan kenikmatan bagiku karena Rasulullah saw wafat dipangkuanku.”
Bagi Aisyah, menetapnya Rasulullah saw selama sakit dikamarnya merupakan kehormatan yang sangat besar karena dia dapat merawat beliau hingga akhir hayat. Rasulullah saw dikuburkan dikamar Aisyah, tepat ditempat beliau meninggal.
Sementara itu, dalam tidurnya, Aisyah melihat tiga buah bulan jatuh ke kamarnya. Ketika dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, Abu Bakar berkata, “Jika yang engkau lihat itu benar, maka dirumahmu akan dikuburkan tiga orang yang paling mulia dimuka bumi.”
Ketika Rasulullah saw wafat, Abu Bakar berkata, “Beliau adalah orang yang paling mulia diantara ketiga bulanmu.” Ternyata Abu Bakar dan Umar bin Khattab dikubur dirumah Aisyah.
Setelah Rasulullah saw wafat, Aisyah senantiasa dihadapkan pada cobaan yang sangat berat, namun dia menghadapinya dengan hati yang sabar, penuh kerelaan terhadap taqdir Allah swt dan selalu berdiam diri didalam rumah semata-mata untuk taat kepada Allah swt.
Rumah Aisyah senantiasa dikunjungi orang-orang dari segala penjuru untuk menimba ilmu atau untuk berziarah kemakam Nabi saw. Ketika istri-istri Nabi saw hendak mengutus Ustman bin Affan menghadap khalifah Abu Bakar untuk menanyakan harta warisan Nabi saw yang merupakan bagian mereka, Aisyah justru berkata, “Bukankah Rasulullah saw telah berkata, ‘Kami para nabi tidak meninggalkan harta warisan. Apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah.”
Dalam penetapan hukum pun, Aisyah kerap langsung menemui wanita-wanita yang melanggar syariat Islam. Didalam Thabaqat, Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah binti Abdirrahman menemui Ummul Mukminin Aisyah r.a. Ketika itu Hafshah mengenakan kerudung tipis. Secepat kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang tebal.
Aisyah tidak pernah mempermudah hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari Al Qur`an dan Sunnah. Aisyah adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw sehingga banyak menyaksikan turunnya wahyu kepada beliau. Aisyah pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah saw jika menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ia memperoleh ilmu langsung dari Rasulullah saw.
Aisyah termasuk wanita yang banyak menghapalkan hadits-hadits Nabi saw, sehingga para ahli hadits menempatkan dia pada urutan kelima dari para penghapal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan Ibnu Abbas.
Dalam hidupnya yang penuh dengan jihad, Sayyidah Aisyah wafat pada usia 66 th, bertepatan dengan bulan Ramadhan,th ke-58 H, dan dikuburkan di Baqi`.
Kehidupan Aisyah penuh dengan kemuliaan, kezuhudan, ketawadhuan, pengabdian sepenuhnya kepada Rasulullah saw, selalu beribadah serta senantiasa melaksanakan shalat malam. Selain itu, Aisyah banyak mengeluarkan sedekah sehingga didalam rumahnya tidak akan ditemukan uang satu dirham atau satu dinar pun. Dimana sabda Rasul, “Berjaga dirilah engkau dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma.” (HR. Ahmad).
Langganan:
Postingan (Atom)